Keteranga
  • This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

17/12/10

Mengenal Suku Bugis

Foto: Google
Bugis merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Penciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga dikategorikan sebagai orang Bugis. Berdasarkan sensus penduduk Indonesia tahun 2000, populasi orang Bugis sebanyak sekitar enam juta jiwa. Kini orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Orang Bugis juga banyak yang merantau ke mancanegara.

Awal Mula
Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Foto: Google
Perkembangan
Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)

Masa Kerajaan

Kerajaan Bone
Di daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang kemudian muncul seorang To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang. Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue. Manurungnge ri Matajang dikenal juga dengan nama Mata Silompoe. Adapun ade' pitue terdiri dari matoa ta, matoa tibojong, matoa tanete riattang, matoa tanete riawang, matoa macege, matoa ponceng. istilah matoa kemudian menjadi arung. setelah Manurungnge ri Matajang, kerajaan Bone dipimpin oleh putranya yaitu La Ummasa' Petta Panre Bessie. Kemudian kemanakan La Ummasa' anak dari adiknya yang menikah raja Palakka lahirlah La Saliyu Kerrempelua. pada masa Arumpone (gelar raja bone) ketiga ini, secara massif Bone semakin memperluas wilayahnya ke utara, selatan dan barat
Kerajaan Makassar
Di abad ke-12, 13, dan 14 berdiri kerajaan Gowa, Soppeng, Bone, dan Wajo, yang diawali dengan krisis sosial, dimana orang saling memangsa laksana ikan. Kerajaan Makassar (Gowa) kemudian mendirikan kerajaan pendamping, yaitu kerajaan Tallo. Tapi dalam perkembangannya kerajaan kembar ini (Gowa & Tallo) kembali menyatu menjadi kerajaan Makassar (Gowa).

Foto: Google
Kerajaan Soppeng
Di saat terjadi kekacauan, di Soppeng muncul dua orang To Manurung. Pertama, seorang wanita yang dikenal dengan nama Manurungnge ri Goarie yang kemudian memerintah Soppeng ri Aja. dan kedua, seorang laki-laki yang bernama La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng ri Lau. Akhirnya dua kerajaan kembar ini menjadi Kerajaaan Soppeng.

Kerajaan Wajo
Sementara kerajaan Wajo berasal dari komune-komune dari berbagai arah yang berkumpul di sekitar danau Lampulungeng yang dipimpin seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri lampulung. Sepeninggal beliau, komune tersebut berpindah ke Boli yang dipimpin oleh seseorang yang juga memiliki kemampuan supranatural. Datangnya Lapaukke seorang pangeran dari kerajaan Cina (Pammana) beberapa lama setelahnya, kemudian membangun kerajaan Cinnotabbi. Selama lima generasi, kerajaan ini bubar dan terbentuk Kerajaan Wajo. Kerajaan pra-wajo yakni Cinnongtabi dipimpin oleh masing-masing : La Paukke Arung Cinnotabi I, We Panangngareng Arung Cinnotabi II, We Tenrisui Arung Cinnotabi III, La Patiroi Arung Cinnotabi IV. setelahnya, kedua putranya menjabat sekaligus sebagai Arung Cinnotabi V yakni La Tenribali dan La Tenritippe. Setelah mengalami masa krisis, sisa-sisa pejabat kerajaan Cinnotabi dan rakyatnya bersepakat memilih La Tenribali sebagai raja mereka dan mendirikan kerajaan baru yaitu Wajo. adapun rajanya bergelar Batara Wajo. Wajo dipimpin oleh, La Tenribali Batara Wajo I (bekas arung cinnotabi V), kemudian La Mataesso Batara Wajo II dan La Pateddungi Batara Wajo III. Pada masanya, terjadi lagi krisis bahkan Batara Wajo III dibunuh. kekosongan kekuasaan menyebabkan lahirnya perjanjian La Paddeppa yang berisi hak-hak kemerdekaan Wajo. setelahnya, gelar raja Wajo bukan lagi Batara Wajo akan tetapi Arung Matowa Wajo hingga meleburnya Wajo pada pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia @arm

Konflik antar Kerajaan
Pada abad ke-15 ketika kerajaan Gowa dan Bone mulai menguat, dan Soppeng serta Wajo mulai muncul, maka terjadi konflik perbatasan dalam menguasai dominasi politik dan ekonomi antar kerajaan. Kerajaan Bone memperluas wilayahnya sehingga bertemu dengan wilayah Gowa di Bulukumba. Sementara, di utara, Bone bertemu Luwu di Sungai Walennae. Sedang Wajo, perlahan juga melakukan perluasan wilayah. Sementara Soppeng memperluas ke arah barat sampai di Barru. Perang antara Luwu dan Bone dimenangkan oleh Bone dan merampas payung kerajaan Luwu kemudian mempersaudarakan kerajaan mereka. Sungai Walennae adalah jalur ekonomi dari Danau Tempe dan Danau Sidenreng menuju Teluk Bone. Untuk mempertahankan posisinya, Luwu membangun aliansi dengan Wajo, dengan menyerang beberapa daerah Bone dan Sidenreng. Berikutnya wilayah Luwu semakin tergeser ke utara dan dikuasai Wajo melalui penaklukan ataupun penggabungan. Wajo kemudian bergesek dengan Bone. Invasi Gowa kemudian merebut beberapa daerah Bone serta menaklukkan Wajo dan Soppeng. Untuk menghadapi hegemoni Gowa, Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng membuat aliansi yang disebut "tellumpoccoe".
Foto: Google

Penyebaran Islam
Pada awal abad ke-17, datang penyiar agama Islam dari Minangkabau atas perintah Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Mereka adalah Abdul Makmur (Datuk ri Bandang) yang mengislamkan Gowa dan Tallo, Suleiman (Datuk Patimang) menyebarkan Islam di Luwu, dan Nurdin Ariyani (Datuk ri Tiro) yang menyiarkan Islam di Bulukumba.

Kolonialisme Belanda
Pertengahan abad ke-17, terjadi persaingan yang tajam antara Gowa dengan VOC hingga terjadi beberapa kali pertempuran. Sementara Arumpone ditahan di Gowa dan mengakibatkan terjadinya perlawanan yang dipimpin La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka. Arung Palakka didukung oleh Turatea, kerajaaan kecil Makassar yang berhianat pada kerajaan Gowa. Sementara Sultan Hasanuddin didukung oleh menantunya La Tenri Lai Tosengngeng Arung Matowa Wajo, Maradia Mandar, dan Datu Luwu. Perang yang dahsyat mengakibatkan banyaknya korban di pihak Gowa & sekutunya. Kekalahan ini mengakibatkan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya yang merugikan kerajaan Gowa. Pernikahan Lapatau dengan putri Datu Luwu, Datu Soppeng, dan Somba Gowa adalah sebuah proses rekonsiliasi atas konflik di jazirah Sulawesi Selatan. Setelah itu tidak adalagi perang yang besar sampai kemudian di tahun 1905-1906 setelah perlawanan Sultan Husain Karaeng Lembang Parang dan La Pawawoi Karaeng Segeri Arumpone dipadamkan, maka masyarakat Makassar dan Bugis baru bisa betul-betul ditaklukkan Belanda. Kosongnya kepemimpinan lokal mengakibatkan Belanda menerbitkan Korte Veklaring, yaitu perjanjian pendek tentang pengangkatan raja sebagai pemulihan kondisi kerajaan yang sempat lowong setelah penaklukan. Kerajaan tidak lagi berdaulat, tapi hanya sekedar perpanjangan tangan kekuasaaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sampai kemudian muncul Jepang menggeser Belanda hingga berdirinya NKRI.

Foto: Google
Masa Kemerdekaan
Para raja-raja di Nusantara mendapat desakan oleh pemerintahan Orde Lama (Soekarno) untuk membubarkan kerajaan mereka dan melebur dalam wadah NKRI. Pada tahun 1950-1960an, Indonesia khususnya Sulawesi Selatan disibukkan dengan pemberontakan. Pemberontakan ini mengakibatkan banyak orang Bugis meninggalkan kampung halamannya. Pada zaman Orde Baru, budaya periferi seperti budaya di Sulawesi benar-benar dipinggirkan sehingga semakin terkikis. Sekarang generasi muda Makassar & Bugis adalah generasi yang lebih banyak mengkonsumsi budaya material sebagai akibat modernisasi, kehilangan jati diri akibat pendidikan pola Orde Baru yang meminggirkan budaya mereka. Seiring dengan arus reformasi, munculah wacana pemekaran. Daerah Mandar membentuk propinsi baru yaitu Sulawesi Barat. Kabupaten Luwu terpecah tiga daerah tingkat dua. Sementara banyak kecamatan dan desa/kelurahan juga dimekarkan. Namun sayangnya tanah tidak bertambah luas, malah semakin sempit akibat bertambahnya populasi dan transmigrasi.

Mata Pencaharian
Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

Perompak
Sejak Perjanjian Bongaya yang menyebabkan jatuhnya Makassar ke tangan kolonial Belanda, orang-orang Bugis dianggap sebagai sekutu bebas pemerintahan Belanda yang berpusat di Batavia. Jasa yang diberikan oleh Arung Palakka, seorang Bugis asal Bone kepada pemerintah Belanda, menyebabkan diperolehnya kebebasan bergerak lebih besar kepada masyarakat Bugis. Namun kebebasan ini disalahagunakan Bugis untuk menjadi perompak yang mengganggu jalur niaga Nusantara bagian timur.
Armada perompak Bugis merambah seluruh Kepulauan Indonesia. Mereka bercokol di dekat Samarinda dan menolong sultan-sultan Kalimantan di pantai barat dalam perang-perang internal mereka. Perompak-perompak ini menyusup ke Kesultanan Johor dan mengancam Belanda di benteng Malaka.

Serdadu Bayaran
Selain sebagai perompak, orang-orang Bugis terkenal sebagai serdadu bayaran. Orang-orang Bugis salah satu serdadu Belanda yang setia. Mereka banyak membantu Belanda, yakni saat pengejaran Trunojoyo di Jawa Timur, penaklukan pedalaman Minangkabau melawan pasukan Paderi, serta membantu orang-orang Eropa ketika melawan Ayuthaya di Thailand. Orang-orang Bugis juga terlibat dalam perebutan kekuasaan dan menjadi serdadu bayaran Kesultanan Johor, ketika terjadi perebutan kekuasaan melawan para pengelana Minangkabau pimpinan Raja Kecil.

Bugis Perantauan
Kepiawaian suku Bugis dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka[rujukan?].

Foto: Google
Penyebab Merantau
Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih
Bugis di Kalimantan Timur
Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah Kesultanan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.
Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh.
Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan didalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).
Bugis di Sumatera dan Semenanjung Malaysia
Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor yang merupakan keturunan Makassar.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bugis

Prosesi Pernikahan Adat Bugis Makassar


Foto; Google
Prosesi pernikahan yang dipakai oleh masyarakat Bugis-Makassar. Prosesi pernikahan ini dipertunjukkan di halaman Benteng Fort Rotterdam dan disaksikan oleh puluhan warga asing yang ikut Dalam acara Pasar Wisata TIME. Prosesinya antara lain Mappacci, Mappettu Ada, Pabbaji, dan sebagainya. Selain itu para peserta TIME juga disuguhi aneka makanan tradisional dari Makassar.

Pabbajikang
Ini adalah gambar dimana mempelai pria dan wanita disatukan dalam satu sarung. prosesi ini diberi nama pabbajikang. Yaitu prosesi yang mempertemukan kedua mempelai untuk pertama kalinya sebelum bersanding di pelaminan. Pabbajikang melambangkan status antara mempelai wanita dan pria yang sudah halal untuk satu sama lain. Biasanya salah satu orang yang dituakan seperti dalam gambar [yang memakai baju putih-red] membimbing kedua mempelai untuk menyentuh bagian tertentu seperti ubun-ubun, pipi dan bahu. dalam adat bugis, prosesi ini dinamakan Mappasikarawa.

Rombongan Erang-erang
Iring-iringan pengantin dalam baju bodo kuning yang bersiap menuju kediaman mempelai wanita. Masing-masing membawa hadiah yang akan diberikan sebagai persembahan atau erang-erang untuk pengantin wanita. Biasanya erang-erang tersebut berisi seperangkat alat sholat, sepatu, emas, kosmetik dan sebagainya. Rombongan gadis pembawa erang-erang umumnya terdiri dari 12 orang gadis remaja dan dikawal oleh keluarga pengantin pria.

Warren&Joyce
mereka adalah Warren Whittaker dan Joycelyn Hill yang ikut menyaksikan pagelaran adat perkawinan Makassar. Menurut mereka acara pernikahan di Makassar sangat unik dengan berbagai macam warna pakaian yang cerah. Berbeda dengan yang sering dilihatnya di lingkungannya di Sydney Australia. Joy baru empat bulan berada di Indonesia dan tidak merasa takut dengan berbagai macam pemberitaan yang sering ditemuinya di media massa. "yang salah adalah orang yang berbuat bukan Indonesianya" demikian kata Joyce ketika ditanya soal beberapa peristiwa peledakan yang menewaskan warga Australia.

Passompoa
Passompa adalah salah satu bagian penting dalam prosesi perkawinan. Passompa berarti dipanggulnya salah seorang anggota keluarga mempelai wanita yang termuda.

Paduan Suara Makassar
Ini adalah Paduan Suara Mahasiswa dari Universitas Hasanuddin. Mereka membawakan lagu-lagu daerah Sulawesi Selatan dalam pakaian adat Tanah Toraja.

Jangan Coba-coba Permainkan Gadis Dayak

Foto: Google
     LO-lo-lo-lo-lo-looooo-koooooo-ei!!! Teriakan semacam itu pasti terdengar dalam setiap upacara "menjemput'' tamu yang datang ke permukiman suku Dayak, khususnya mereka yang masih tinggal di udik-udik atau tengah hutan. Teriakan ini sebagai penghormatan danrasa suka cita mereka kepada tamunya, terlebih-lebih pejabat   tinggi yang datang dari jauh. Bahkan sebelum naik ke darat, tamu     akan disambut perahu Dayak yang dihiasi aneka macam ukiran, bulu  burung, serta nyanyian dan tarian.     

Tarian dan nyanyian itu dilakukan di atas perahu, sambil  mengelilingi perahu pejabat tadi sebanyaktujuh kali.Lalu secara  bersama-sama mereka meneriakkan:      
"Lo-lo-lo-lo-looooo-loooo-koooo-ei!!!''. Sambutan dan nyanyian      tersebut punya maksud, agar tamu-tamu mereka selamat dalam  perjalanan sampai pulang ke rumah.     

Tips Bertemu     
Ada beberapa tips bagi tamu yang berkunjung ke permukiman suku   Dayak, agar tak mendapatkan kesulitan selama berada di sana. Misalnya, tamu harus tenang dalam menghadapi nyanyian dan tarian yang hiruk-pikuk tersebut. Jangan membuat ulah yang dapat  mengganggu jalannya upacara penyambutan.Begitu sampai di tepian,  jangan langsung naik ke tangga, tetapi tunggu sampai ada perintah      dari kepala adat (demang) yang bersama Mantir Basara (anggota adat) akan menyambut tamunya. Para tamu nantinya akan disebari   beras kuning, atau diberi minyak enyoh bulan (kelapa yang kulitnya  kuning). 

Foto: Google
"Bila tamu yang datang orang penting, tidak jarang mereka ditandu      sampai di depan tangga rumah. Di tempat itu, tamu harus berdiri di      depan kayu penghalang yang sengaja dipasang oleh tuan rumah secara      berlapis,'' kata warga Dayak yang tinggal di Semarang. 

Sebelum masuk gerbang, tamu harus memotong kayu penghalang itu      secara berturut - turut dengan mandau -senjata khas suku Dayak.      

Pemotongan kayu itu diiringi tetabuhan gong, yang dalam bahasa   mereka disebut rantong. Di situ sekaligus diadakan tanya-jawab,  untuk mengetahui maksud kunjungan si tamu. Begitu pintu gerbang   dibuka, gadis-gadis manis akan menari sambil mengalunkan nyanyian   puji-pujian. Mereka juga membawa beras, sayur-sayuran, telur, ikan   dan sebagainya. Sebagai ucapan terima kasih, tamu harus  menundukkan kepala.     Selanjutnya, kepala adat akan datang dan menyerahkan tuak (dalam  tanduk kerbau atau sapi) kepada tamu. Ingat, jangan sampai     menolak, minumlah meskipun hanya sedikit. Setelah itu, tamu   penting tadi didudukkan di atas gong, lalu diolesi darah ayam atau  sapi oleh kepala adat.Menurut adat setempat, tamu yang diolesi darah hewan menunjukkan penghormatan besar dan tertinggi dari suku Dayak. Tamu agung dan terhormat bukan hanya mendapat hadiah seperti beras, sayuran, telur dan sebagainya, melainkan juga mandau atau sumpitan sebagai kenang-kenangan. Barang-barang itu  juga harus diterima, jangan menolak.  
Ketika menerima tanda kenang-kenangan, jangan lantas ganti memberi  uang, sebab ini diartikan sebagai penghinaan. Berikan saja rokok, garam, atau tembakau, kepada mereka. Jika bentuknya uang, berilah lain waktu. Pokoknya jangan sampai bersamaan dengan pemberian  mereka. Arak -yang dalam bahasa mereka disebut baram atau danum tewun- sering juga diberikan kepada tamu terhormat. Itu juga  jangan ditolak, minumlah sedikit, walau tidak suka. Apabila tangan  tamu ditarik untuk diajak menari, ya maulah... walau tidak bisa menarri. 
Foto: Google

 Soal Makan
Selama di permukinan suku Dayak, keamanan tamu akan dijaga      betul-betul. Bila tamunya beragama Islam akan diberi ayam hidup,  beras, telur, sayuran, dan lain-lain, untuk dimasak sendiri oleh tamunya. Bila tamunya Kristen atau agama Dayak Kahariang, makanan yang disuguhkan akan dimasak orang Dayak sendiri. Mengapa bila tamunya orang yang beragama Islam harus masak sendiri, karena  mereka sangat menghormati. Maksudnya agar makanan tersebut bebas dari barang yang diharamkan orang Islam misalnya babi dan sebagainya.   Pada saatnya makan, tanpa diminta tuan rumah akan menyediakan  makan. Makanlah dengan lahap. Jangan nyimik - nyimik. Nanti dikira   masakannya tidak enak atau tidak suka. Orang Dayak sangat puas  bila tamunya makan dengan lahap, apalagi bila masakannya  dihabiskan tamunya. 

 Adat Gadis 
"Lain lubuk lain belalang'' juga berlaku bagi suku Dayak dalam     memperlakukan gadis-gadisnya. Tetapi ini hanya berlaku di daerah     pedalaman atau udik-udik saja. Mereka yang sudah mengenyam hidup      di kota atau berpendidikan tinggi akan menyesuaikan diri. Ada      beberapa ketentuan menghadapi gadis-gadis Dayak. Antara lain      dilarang bercakap dengan mereka di tempat tersembunyi. Bila      ketahuan, lelaki itu akan dihukum denda oleh pengadilan adat.     Saat lelaki berjalan dan ketemu gadis yang tak dikenal, dilarang      memperhatikan apalagi memelototkan mata. Kalau ketahuan saudara      laki-laki gadis, kita bisa dihukum adat. Kalau mau bertamu dan masuk ke rumah Dayak, sejak dari luar harus bertanya dulu: "Apakah      ada orang di rumah?. Kalau dijawab, "Ada'', maka harus bertanya      lagi: " Bolehkah masuk?''.Bila diperbolehkan masuk, tamu harus  bertanya sekali lagi: "Apakah ada laki-laki di dalam rumah?''. 

Nah, kalau ternyata di dalam rumah tidak ada lelaki, lebih baik     mengurungkan niat masuk rumah tersebut. Kalau tamu datang lagi ke     rumah itu, maka harus memberitahu kepada laki-laki ada di situ,      bahwa dia tadi sudah bertandang tapi urung masuk. Ini adat yang      harus dipenuhi para tamu. Jangan gegabah, sebab bila tidak tahu      aturan bisa dianggap menghina atau akan berbuat yang tidak      semestinya terhadap penghuni rumah yang bersangkutan.Anda juga  harus hati-hati selama berada di dalam rumah Dayak, khususnya      ketika ada gadis yang lewat atau sedang menyuguhkan makanan. Jangan coba-coba membuat membuat gerakan atau suara yang dapat  diartikan mengganggu wanita tadi. Salah-salah Anda bisa diusir.    

Mempermainkan gadis atau wanita Dayak dianggap sebagai perbuatan      yang hina dan jahat di mata lelaki setempat. Karena itu, kalau      kebetulan lewat di jalan di mana banyak wanita Dayak di situ, Anda      harus minta izin dulu dari wanita tua di antara mereka. Jadi tidak      asal lewat, apalagi sambil suit-suit atau bersiul. 

Suku Dayak  memang sangat ketat menjaga gadis-gadisnya dari gangguan orang  luar. Tradisi tersebut tetap dipertahankan sampai sekarang,  terutama mereka yang masih tinggal di daerah pedalaman. Tetapi      bagi para gadis Dayak yang lama berada di kota, atau jauh dari      kampung halaman, tradisi tersebut mulai longgar, sesuai dengan perkembangan masyarakat setempat. (Mas Soesiswo-48) 
  Sumber : http://www.hamline.edu/

Benarkah Asal Usul Suku Dayak Berasal dari Keturunan Bangsa China?

Foto : Google
Oleh: AnneAhira.com Content Team 
Sejak aku menginjak remaja dan mulai memperluas pergaulan sosial, banyak yang bertanya apakah aku ini orang Dayak? Pertanyaan yang sama dan berulang-ulang membuatku menjadi penasaran dari mana sebenarnya asal-usul suku Dayak.
Dengan tekad untuk menjawab rasa ingin tahuku yang begitu kuat, akhirnya aku bertanya pada nenekku. Dan benar, ternyata aku adalah keturunan setengah Dayak dan setengah China. Lalu dari mana asal-usul suku Dayak sebenarnya?
Sekitar 3000-1500SM, benua Asia dan Kalimantan masih menyatu. Pada saat itu terjadi perpindahan penduduk dari Yunan secara besar-besaran. Mereka mengembara melintasi daratan, menjelajah hutan dan pegunungan hingga sampai di daratan Kalimantan.
Bangsa China dari Yunan itu memasuki Kalimantan pada zaman kerajaan Dinasti Ming antara tahun 1368 – 1643. Tujuan utama bangsa China tersebut adalah berdagang. Sepanjang perjalanan, di setiap daerah yang mereka lewati, mereka memperdagangkan barang-barang yang mereka bawa seperti candu, sutera, barang pecah belah yang antara lain adalah piring, cangkir, mangkok, guci dan berbagai macam keramik lainnya.
Bersamaan dengan masuknya bangsa China ke daratan Kalimantan, masuk pula kelompok lain yang dikenal sebagai kelompok negroid dan weddid yang belakangan dikenal sebagai suku Melayu.
Kedua kelompok imigran itu akhirnya hidup berdampingan dan menetap di Kalimantan. Dari hanya berdagang akhirnya terjadi percampuran penduduk melalui perkawinan. Anak-anak hasil perkawinan dua kelompok imigran itulah yang akhirnya menjadi suku Dayak.
Asal mula suku Dayak ini diceritakan turun temurun dari mulut ke mulut. Dan karena percampuran dengan Bangsa China itulah banyak anak-anak suku Dayak yang berwajah oriental, sangat mirip dengan anak-anak China. Bermata sipit dan berkulit kuning langsat.
Bahkan, gadis-gadis Dayak terlihat lebih cantik daripada gadis China sebenarnya. Gadis-gadis Dayak tersebut terlihat lebih eksotik. Suku Dayak, hasil dari percampuran itu akhirnya menyebar hampir ke seluruh daerah di Kalimantan. Mereka menyisir sungai-sungai, kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan.
Percampuran terus terjadi. Perempuan/ laki-laki suku Dayak generasi berikutnya menikah dengan sesama penduduk setempat yang menciptakan suku Dayak murni atau menikah dengan keturunan bangsa China yang menetap di daerah mereka.
Suku Dayak juga membentuk sebuah kerajaan yang dinamai “Nansarunai Usak Jawa” atau kerajaan Dayak Nansarunai. Namun, kerajaan ini hancur akibat ekspansi kerajaan Majapahit yang ingin memperluas wilayah kekuasaannya.
Dengan masuknya kerajaan Majapahit, persebaran agama Islam mulai merambah ke suku Dayak yang rata-rata masih menganut paham animisme dan dinamisme atau penyembahan terhadap benda-benda dan alam.
Sebagian Masyarakat suku Dayak akhirnya memeluk agama Islam dan sejak itu mereka tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak. Karena dunia mistik orang Dayak yang begitu kuat sangat bertentangan dengan agama Islam yang menyembah Allah. Suku Dayak yang memeluk agama Islam ini menyebut diri mereka sebagai orang Melayu atau orang Banjar.
Namun, sebagian lagi masyarakat suku Dayak tetap pada kepercayaan mereka. Mereka tidak mau memeluk agama Islam karena masih memegang teguh adat istiadat, tradisi, dan kepercayaan mereka. Sehingga orang-orang Dayak ini akhirnya mengungsi dengan menyusuri sungai-sungai panjang dan masuk ke pedalaman Kalimantan Tengah.
Mereka akhirnya bermukim di daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Bahkan sebagian orang Dayak yang tidak ingin terpengaruh dengan dunia luar memilih memasuki hutan-hutan rimba dan hidup terpencil jauh dari dunia luar. Sehingga saat ini, orang-orang Dayak yang terpencil itu masih tetap hidup secara primitif.
Dari cerita nenekku itulah akhirnya aku mengetahui asal-usul suku Dayak. Pernikahan salah satu kakek buyutku yang keturunan China dan orang suku Dayak membuat keturunannya termasuk aku mewarisi separuh darah China dan separuh lagi darah Suku Dayak.
Jadi, tidak salah jika sebagian teman-temanku mengira aku keturunan Dayak, namun   sebagian temanku yang lain mengira aku adalah keturunan China. Sekarang, di zaman yang serba modern ini, anggapan termasuk suku mana tidaklah penting.
Suku apa pun yang mengalir dalam tubuhku harusnya tidaklah menjadi perbedaan yang membuat masyarakat menjadi terkotak-kotak. Perbedaan suku dan budaya membuat Bangsa Indonesia menjadi sangat kaya dalam budaya dan istimewa. Dan aku terlahir istimewa!

Sumber : http://www.anneahira.com/

Meretas Jalan Kebangkitan Suku Bangsa Dayak


Kebangkitan orang Dayak terutama di Kalimantan Barat tidak bisa lepaskan dari peran besar Institute Dayakologi (ID) dan unit gerakannya di Gerakan pemberdayaan Pancur Kasih di Pontianak. Selama lebih dari 25 tahun Pancur Kasih berkarya memberdayakan kehidupan orang Dayak. Masih ingat salah satu karya monumental yang digagasi dalam rangka untuk menyatakan kepada dunia bahwa orang Dayak itu ada dan memang ada. Seminar Nasional Kebudayaan Dayak dan Ekspo Budaya Dayak tahun 1992 lalu, yang di organisir oleh Institut Dayakologi Research and Development-sekarang Institut Dayakologi-merupakan titik balik dari lompatan terbesar dalam perjalanan sejarah orang Dayak.
Kesimpangsiuran penamaan Dayak, menjadi terang dan dikumandangkan sampai ke penjuru dunia, bahwa penamaan yang benar adalah Dayak bukan Daya, Daya’ dan lain sebagainya. Pandangan miring tentang Dayak yang identik dengan kebodohan, miskin, primitif, kuno, kanibal, kotor dan sebagainya merupakan pandangan keliru tentang Dayak. Stigma negatif itu bukan karena nama Dayak-nya, melainkan kondisi eksternal yang secara sistematis memang memosisikan orang Dayak seperti itu.
Bermula dari Ekspo Budaya Dayak inilah, orang Dayak mulai meretas jalan kebangkitannya, beranjak dari tidur panjang dari masa-masa keterpurukkan. Orang Dayak tidak lagi malu mengakui identitasnya, justru bangga. Namun rasa bangga terhadap identitasnya tidak akan berarti apa-apa jika tidak disertai dengan upaya-upaya mempertahankan eksistensi atau identitasnya. Orang Dayak harus berkepribadian secara budaya, berdaulat secara politik, dan mandiri secara ekonomi agar setara dengan komunitas-komunitas lainnya. Apa usaha yang bisa dilakukan untuk mewujudkan itu? Tentu saja banyak cara yang bisa dilakukan, diantaranya: Menyelamatkan Tradisi Kebudayaan Pendokumentasian Budaya
Tumbuhnya Koperasi Kredit (CU) Berkompetisi dalam bidang politik dan pemerintahan

Arsitektur Rumah Betang Suku Dayak


Foto: Google
Arsitektur Dayak tidak bisa dilepaskan dari konsep hidup dan kebudayaan sehari-hari mereka. Konsep hidup dan budaya ini dapat dilihat dari bentuk rumah tinggal yang secara arsitektural memiliki ciri fisik berbentuk rumah yang memanjang dengan tiang (kolong) tinggi yang mereka sebut sebagai rumah Betang atau Rumah Panjang atau Lamin atau juga lebih kerennya disebut Long House.
Selain dari bentuk fisik, rumah Betang secara arsitektural menggambarkan konsep hidup dan kebudayaan Dayak. Hal ini dapat terlihat pada tata ruang, bentuk bangunan, asesoris seperti patung, ukiran, pernak pernik, dan pola penataannya. Dengan melihat tata ruang rumah, bentuk, dan susunannya dapat diketahui bagaimana pola hidup, pola pikir, pilosofi serta kebudayaan yang terjadi dalam masyarakatnya.

Bentuk
Dalam pedoman arsitektur tradisional Dayak terdapat faktor-faktor penentu seperti hal-hal yang berhubungan dengan dasar pemilihan lokasi, penataan site plan, perencanaan bangunan, dimensi, proporsi, simbol-simbol, dan detailnya, demikian juga pada pemakaian dan penempatan materialnya. Arsitektur tradisional Dayak menempatkan suasana dan pengarahan dengan bentuk-bentuk ruang yang dapat menjaga keseimbangan manusia dengan alam lingkungannya.
Ciri-ciri bentuk rumah suku-suku Dayak secara universal dapat dilihat dari:
Bentuk Bangunan: Bentuk bangunan panjang dan hanya beberapa unit saja dalam satu kampung. Biasanya tidak lebih dari 5 unit. Satu unit bisa digunakan oleh 5-10 anggota keluarga. Bahkan ada yang digunakan secara komunal oleh lebih dari 30 anggota keluarga. Bentuk rumah berkolong tinggi, dengan ketinggian sampai dengan 4 meter dari permukaan tanah. Badan rumah (dinding) terkadang berarsitektur jengki dengan atap pelana memanjang.

Tata Ruang
Ruang-ruang yang ada dalam Rumah Betang biasanya terdiri dari sado', padongk, bilik, dan dapur.
Sado' (dalam bahasa Dayak Simpangk) adalah pelantaran tingkat bawah yang biasanya merupakan jalur lalu lalang penghuni rumah Betang. Sado' juga biasanya digunakan sebagai tempat untuk melakukan aktivitas umum seperti menganyam, menumbuk padi, berdiskusi adat secara massal, dan lain sebagainya.
Padongk dapat diterjemahkan sebagai ruang keluarga, letaknya lebih dalam dan lebih tinggi dari pada sado'. Ruangan ini biasanya tidak luas, mungkin berkisar antara 4x6m saja. Padongk lebih umum dimanfaatkan oleh pemilik Rumah Betang sebagai ruang kumpul keluarga, ngobrol, makan minum, menerima tamu dan aktivitas yang lebih personal.
Bilik adalah ruang tidur. Bilik tentu saja digunakan untuk tidur. zaman dahulu, satu bilik bisa dipakai oleh 3-5 anggota keluarga. mereka tidur dalam satu ruangan dan hanya dibatasi oleh kelambu. Kelambu utama untuk ayah dan ibu, kelambu kedua dan ketiga untuk anak-anak. tentu kelambu anak laki-laki dan perempuan akan dipisahkan.
Ruang yang terakhir didalam Rumah Betang adalah Dapur. Ruang ini terbuka dan memiliki view yang langsung berhadapan dengan ruang padongk. Umumnya dapur hanya berukuran 1x2m dan hanya untuk menempatkan tungku perapian untuk memasak. Di atas perapian biasanya ada tempara untuk menyimpan persediaan kayu bakar. Dapur di rumah Betang amat sederhana dan hanya berfungsi untuk kegiatan masak memasak saja.

Aktifitas suku Dayak selain di ladang dan dihutan, lebih banyak dilakukan di dalam rumah baik itu aktivitas sosial, kebudayaan, bahkan pusat kekuasaan mengatur tata kehidupan masyarakat. Dengan kata lain Rumah Betang bagi suku Dayak merupakan pusat kebudayaan dan jantung tradisi mereka. Karenanya keberadaan Rumah Betang harus tetap dijaga kelestariannya. Walaupun sudah tidak ditempati lagi setidaknya tetap dijadikan sebagai bangunan konservasi karena memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi orang Dayak.

* Nistain Odop; Penulis dan Arsitek Dayak.

Sumber : http://dayakmenggugat.blogspot.com/,

Hukum Adat Vs Hukum Negara


Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Agaknya, pepatah ini sangat pas untuk menggambarkan keberadaan setiap kelompok masyarakat di nusantara yang memiliki ciri tersendiri yang membuatnya unik dan berbeda sesuai dengan tuntutan lingkungan bio-fisik dan sosio-kulturalnya. Realitas kehidupan sosial kita memang demikian. Kita hidup dalam lingkungan yang sangat plural mulai dari suku, agama, etnis, bahasa, dan budaya. Itulah jati diri negara-bangsa, Indonesia. Dengan demikian, pengingkaran terhadap keberagaman itu sama dengan penyangkalan terhadap jati diri ke-Indonesia-an itu sendiri.
Dalam konteks jati diri ke-Indonesia-an itulah, hukum adat masyarakat Dayak Simpakng dapat diletakkan sebagai salah satu pembentuk dari identitas bangsa–negara, Indonesia. Dengan kata lain, hukum adat masyarakat Dayak Simpakng adalah salah satu ciri Indonesia. Permasalahannya adalah: Cara pandang negara terhadap masyarakatnya, seringkali tidak menemukan titik temu yang saling menguntungkan. Singkatnya, negara tidak bisa memahami realitas masyarakatnya yang beragam itu sehingga berdampak pada kebijakan-kebijakan yang diskriminatif terhadap masyarakat adat.
Sebagai contoh, hukum negara selalu dikatakan sebagai hukum positif. Logikanya adalah: jika ada hukum positif, adakah hukum yang negatif? Dalam logika ini, secara implisit jelas ingin dikatakan bahwa diluar hukum negara (hukum adat) dianggap sebagai hukum yang tidak positif (negatif). Banyak kalangan seringkali menganggap hukum adat adalah hukum yang tradisional, kuno, kolot, mengada-ngada, tidak konsisten, tidak masuk akal dan seterusnya. Cara pandang seperti ini sangat merugikan keberadaan hukum adat kita. Dalam hal ini ada kesan bahwa hukum adat tidak diakui oleh negara. Satu-satunya hukum yang diakui adalah hukum yang dianggap positif, yaitu hukum negara itu sendiri.
Pertanyaannya adalah: Manakah yang paling benar, hukum negara atau hukum adat? Pertanyaan ini agaknya sama sulitnya dengan menjawab pertanyaan: Mana yang lebih tua, ayam atau telur dan pertanyaan mana yang lebih tua, rebung atau bambu. Atau, boleh jadi, pertanyaan ini juga sama sulitnya bagi orang Kristen menjelaskan konsep Trinitas. Jawabanya adalah sangat tergantung pada paradigma atau cara pandang orang terhadap hukum adat itu sendiri.
Paradigma adalah cara seseorang memahami realitas dunia disekitarnya. Dalam hal ini, negara memiliki paradigmanya sendiri dalam memahami realitas hukum adat. Demikian juga halnya dengan masyarakat adat memiliki pandangannya sendiri dalam memahami realitas hukum adat mereka. Paradigma siapakah yang paling benar? Perlu digarisbawahi bahwa paradigma tidak ada yang salah. Yang ada adalah, paradigma itu bisa berbeda. Kita akan menjadi lebih baik didalam memandang orang lain dan berperilaku kepada orang lain jika kita mau memahami paradigma orang lain.
Untuk menjelaskan paradigma atau cara pandang itu, berikut diberikan sebuah ilustrasi para orangbuta yang memegang gajah. Seorang dari mereka mengatakan bahwa gajah itu seperti ular karena dia memegang bagian belalainya. Seorang buta yang lain memegang gajah pada bagian kakinya dan mengatakan bahwa gajah itu seperti pohon. Orang buta yang ketiga memegang gajah pada bagian badannya dan mengatakan bahwa gajah itu lebar seperti daun pisang. Pertanyaannya adalah: Siapakah diantara orangbuta itu yang paling benar memahami realitas seekor gajah? Jawabannya, semua mereka benar berdasarkan cara pandang atau paradigma masing-masing. Orang-orang buta itu tidak akan bertengkar jika mereka mau memahami sudut pandang satu dengan yang lainnya.
Sekarang, kita kembali ke pertanyaan: Manakah yang paling benar, hukum adat atau hukun negara? Intinya adalah, hukum adat benar, hukum negara benar tergantung dari paradigma mana kita melihatnya. Yang jelas, hukum negara adalah positif karena mengatur perilaku setiap warga negaranya. Demikian juga hukum adat positif karena dia mengatur tatanan kehidupan masyarakatnya. Akan tetapi, dalam hal ruang lingkup memang berbeda. Hukum negara lebih berlaku luas bagi semua warga negarannya sedangkan hukum adat hanya berlaku lokal pada komunitas penggunanya saja. Tapi sekali lagi, keduanya adalah sama-sama positif karena bertujuan mengatur kehidupan bersama agar manusia tidak merajalela.
Buku ini selain memberikan informasi adat dan hukum adat masyarakat Dayak Simpakng secara rinci juga ingin mempertegas bahwa hukum adat itu, (sekali lagi) tidaklah kuno, kolot, mengada-ngada, tidak konsisten, tidak masuk akal dan seterusnya. Justru, dengan adanya adat dan hukum adat adalah bukti bahwa masyarakat itu sudah maju karena mampu mengatur tatanan kehidupan sosial mereka secara bijaksana.
Pada masyarakat Dayak Simpakng, hukum adat itu lahir jauh sebelum Indonesia menjadi bangsa-negara modern (17 Agustus 1945). Artinya, masyarakat Dayak Simpakng itu sudah mengalami kemajuan yang luar biasa sebelum negara-bangsa ini mampu mengatur kehidupan warganya seperti sekarang ini. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa hukum adat itu negatif, mengada-ngada dan lain sebagainya.


Kilas Jejak Manusia Dayak


Bicara tentang suku bangsa Dayak, potret masa lalu ketika bangsa ini berada dalam
kungkungan kekuasaan rezim orde baru, konstruksi pikiran kita sudah barang tentu akan
diajak dan dituntun pada sebuah gambaran stereotif yang menyatakan bahwa Dayak itu
memiliki pola hidup yang misterius, sakti, tradisional, nomaden, ketinggalan zaman,
kanibal, dan sebagainya. Namun, jika mau melihat ke sejarah masa silam, sesungguhnya
istilah Dayak itu baru mulai dikenal dunia setelah adanya penemuan Dr. August
Kanderland, seorang sosiolog Belanda ditahun 1803. Dalam penemuannya tersebut, dia
menjelaskan bahwa penduduk yang ia temui di pedalaman Borneo (Kalimantan)
mengaku diri sebagai “Orang Daya”, koloni manusia yang tinggal di kawasan perhuluan
sungai dan memeluk kepercayaan non muslim.
Selanjutnya, tulisan
tulisan Dr. August memancing rasa ingin tahu banyak ahli
dunia, termasuk para peneliti Dayak sendiri mengenai tradisi lama tentang cara hidup,
kearifan, kepercayaan, kesatuan dengan alam lingkungan, sampai pada cerita misterius
dan menakutkan seperti Mengayau.
Umum dikatakan bahwa orang Dayak berasal dari Yunan, Cina Selatan, bagian
hulu sungai Mekong, layaknya cerita asal usul beberapa suku di seantero nusantara ini
seperti Toraja, Nias dan sebagian Melayu. Namun, teori ini masih belum bisa dibuktikan
kesahihannya. Catatan masa lalu dari hasil penelitian memang mengarah kesana dimana
ada kemungkinan bahwa para perantau Cina daratan pernah singgah, bermukim dan
berkembang biak di bumi Borneo ini dan bermutasi menjadi embrio suku bangsa Dayak.
Catatan lain menyebutkan bahwa, jauh sebelum bangsa Austronesia (sebuah
bangsa hasil perkawinan silang antar ras mongol dengan ras asli Kalimantan) datang di
kepulauan Kalimantan, di kepulauan ini telah hidup dua bangsa besar, bangsa Weddoide
dan bangsa Negrito (Wijowarsito, 1957). Hal ini menurut Wijowarsito dapat ditelusuri
pada garis sejarah dan budaya di dua kota yakni di Bengkayang dan Singkawang.
Pada konteks Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang, dalam batas
tertentu, orang Dayak yang tersebar di wilayah ini merupakan klan besar dari apa yang
dikenal sebagai Klemantan atau Land Dayak. Ada sekitar empat rumpun Dayak diwilayah
ini, yakni; rumpun Dayak Kanayatn, Salako, Bidayuh, dan Punan dengan beragam bahasa
dan variannya. Seperti di Singkawang, kita akan dengan mudah menemui orang
orang
Dayak yang berdialek Bajare, Badameo atau Damea , Bakati’, Banyadu’, Bajanya,
Bainyam, dan sebagainya.


Siapah Dayak itu?


Foro : Google
Catatan seorang Imam Katolik di Kabupaten Ketapang

Menurut hemat saya tak ada batasan yang bersifat objektif tentang Dayak. Salah satu jalan untuk menentukan apakah seseorang ‘benar-benar Dayak‘ adalah dengan mencari tahu apakah seseorang itu meng-‘identifikasikan diri sendiri‘ sebagai Dayak atau di identifikasikan sebagai Dayak oleh orang lain. Misalnya “Pastor Harimurti lebih Dayak dari pada saya yang notabene orang Dayak”, itu pernyataan Pastor Akomen, seorang pastor dari Etnis Dayak Gerunggang.
Mgr. Mikhail Coomans (Manusia Dayak 1987) dan Juweng (1996) menjelaskan bahwa, pada mulanya Dayak adalah sebuah istilah yang bernada negatif, yang ditujukan bagi orang yang tinggal di pedalaman Kalimantan.
Sekarang orang-orang Dayak sendiri memakai istilah ini untuk ‘mengidentifikasikan diri’ mereka sendiri. Bahkan sekarang ini sudah menjadi kebiasaan orang-orang Dayak menggunakan sebutan ’DAYAK’ untuk mencapai kepentingan kolektif dalam adat budaya, sosial politik dan ekonomi. Dulu tahun 50-an sudah muncul ‘Serikat Kaharingan Dayak Indonesia’ sebagai reaksi atas kekuasaan politik pemerintah yang didominasi orang-orang Muslim/Melayu, di pimpin mantan Gubernur Kalimantan Barat OEVAANG OERAY dan PALAUN SUKA.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ’solidaritas kultur Dayak’ sangat diperlukan oleh orang-orang Dayak untuk mencapai kesejahteraan dalam arus pembangunan ini. Lebih jauh lagi, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Dayak harus menerima identitas Dayak dalam kehidupan bersama dan menghindari konflik-konflik internal sub suku Dayak atau antar suku Dayak, karena konflik-konflik tersebut akan memecah-belah masyarakat Dayak sendiri. Dengan demikian suku Dayak yang terdiri dari banyak sub-suku itu akan menjadi satu kesatuan bulat yaitu ‘Dayak Indonesia’ dan mungkin 'Dayak Malaysia'.
Maka dari itu, orang-orang Dayak perlu mendirikan lembaga-lembaga atau organisasi untuk menyatukan komunitas mereka. DAD (Dewan Adat Dayak) yang ada sekarang ini belum menjadi wadah pemersatu seperti yang saya maksudkan, tetapi cenderung terkontaminasi sebagai alat atau kendaraan partai politik dan politik bisnis semata. Maka perlu diciptakan hubungan-hubungan regional dengan kelompok lain di tingkat kabupaten, provinsi, nasional dan internasional. Hal ini karena ada orang Dayak di Malaysia dan di tempat lain di dunia. Hal ini sudah diprakarsai oleh Musyawarah Adat Dayak Nasional dan Propinsi.
Saya sangat tertarik dengan model kehidupan masyarakat di rumah betang atau rumah panjang. Alangkah baiknya masyarakat Dayak menjaga dan mengembangkan ‘semangat rumah betang’ yang sudah sekian lama menjadi simbol solidaritas
kultural dan menjadi basis kehidupan masyarakat Dayak. Di rumah Betanglah saya menyaksikan bagaimana masyarakat Dayak dapat mengembangkan seni budaya dan seni arsitektur khas Dayak, yang merupakan simbol kunci Kalimantan.
Saya pernah merasakan hidup bersama umat di rumah betang di daerah Gerai dan pernah berkunjung ke Mengkakah Balai Berkuak. Posisi para perempuan sejajar dengan kaum lelaki. Fungsi Kepala Adat Dayak sungguh-sungguh sebagai ’Pengatur dan Pelaksana Adat’ yang perlu di lembagakan kembali secara rapi, teratur, dan disiplin. Orang Dayak harus mendirikan sebuah lembaga pengkajian kebudayaan Dayak dan mengadakan diskusi-diskusi, dialog-dialog, seminar, refleksi ilmiah, khususnya bagi generasi muda, sehingga masyarakat Dayak semakin diperkaya dalam memahami kebudayaan mereka sendiri.
Karena saya melihat bahwa sudah ada kecenderungan kuat dari orang muda untuk: mengetongahan babi hutan, menyisihan babi laman, yang artinya orang muda tidak tertarik lagi dengan kebudayaan sendiri, cenderung memungut budaya lain yang belum tahu juntrungnya. Lemahnya, orang-orang tua kita juga cenderung tidak menjadi pewaris dan penerus budaya yaitu menjadi kacang beketunjaran, keribang bekebolitan.

Sekarang ini saya bangga, karena banyak umat saya –terutama orang-orang muda– telah menjadi sarjana dari berbagai universitas dengan berbagai bidang studi. Beberapa dari mereka itu melanjutkan studinya ke luar negeri dan merepresentasikan kebudayaan Dayak lewat tulisan serta media lainnya.
Seharusnya budaya Dayak semakin maju tanpa harus kehilangan identitasnya. Tetapi menentukan siapa yang ’benar orang Dayak’, tampaknya sebagian besar ditentukan oleh pandangan orang dalam dan orang luar tentang siapa dan apa yang dianggap Dayak. Konsep tentang identitas bersama Dayak memang sudah menjadi lebih luas dan kuat, karena didobraknya identifikasi lama mengenai basis-basis keanggotaan suku Dayak tertentu, misalnya Pesaguan, Kendawangan, Simpang, Bahau, Ngaju, Iban, Kayan, Ahe dan lain-lain.
Identitas kolektif Dayak semakin menunjukkan bahwa masyarakat Dayak terus mendapat porsi yang lebih luas dalam tatanan nasional. Dan nampaknya sifat kenaikan yang menandai kebudayaan Dayak dalam antropologi budaya mulai menghilang atau surut bersama lajunya modernisasi.

Di angkat dari naskah buku Rm. Harimurti.
Seorang Romo yang bertugas di lingkungan masyarakat Dayak dan memperoleh banyak gelar kehormatan dari pemuka-pemuka adat Dayak, khususnya di daerah Pesaguan dan Tumbang Titi.

Sekilas : Mengenal Suku Dayak (1)



Mengutif ungkapan Ansyori Munar, seorang aktivis nasionalis kebangsaan ketika memperingati 100 tahun kebangkitan nasional di Jogjakarta 2008, "masa sekarang Indonesia dijajah oleh Amerika dan Timur Tengah,nasionalisme keindonesiaan mulai tergerus, terutama dalam hal kebudayaan dan ekonomi, bangsa dan masyarakat kita lebih senang meniru dan mengkonsumsi produk penjajah".
Ansyori menguraikan, dari bidang budaya, bangsa
bangsa Arab menjajah
Indonesia dengan bahasa dan kebudayaannya. Contohnya, dalam setiap pembukaan
pembicaraan terutama di even yang resmi, selalu saja dipakai kalimat ’salam mualaikum’, yang kemudian diakhiri dengan bahasa yang sama. Ini menandakan bahwa budaya kita bergeser dan dijajah oleh budaya bangsa lain.
Selain penjajahan budaya seperti yang diungkapkan Ansyori tadi, kita juga melihat
bangsa ini di jajah dari sektor ekonomi dengan masuknya barang
barang
bermerek luar negeri dan semangat masyarakat yang senang mengkonsumsi produk
asing.
Sebagai contoh, masyarakat kita lebih merasa berkelas jika makan di KFC,
mengenakan jeans bermerek Louis, menggunakan hand phone label Nokia, sepatu Nike,
dan sederetan merek terkenal lainnya. Semua itu membawa kita pada gaya konsumsi
yang menyenangi produk luar negeri branded Eropa atau Amerika.

Lalu apa korelasinya terhadap penjajahan dalam hegemoni masyarakat Dayak?
Tentu saja ada, masyarakat kita juga terlibat dalam lingkar jajahan ini. Kita menyenangi hal
hal yang berbau luar negeri karena dianggap trend, kita bangga jika menggunakan barangbarang bermerek Eropa dan kita bangga menggemari kebudayaan Hip Hop ala Amerika, sementara kita lupa akan akar budaya kita sendiri.
Selain pengaruh dari luar, dari dalam juga merasuk dan menjajah orang Dayak, pembaca bisa melihat dan merasakan bagaimana ketimpangan dan ketidakadilan terhadap suku Dayak terjadi dalam kehidupan ini. Menjadi PNS saja sulit, apa lagi menjadi Bupati, menjadi anggota Dewan saja sulit apalagi menjadi Gubernur. Potensi kita dikalahkan oleh sistem diskriminasi di bidang ekonomi dan politik. Kita tidak mampu bicara banyak di tingkat nasional dan masih dianggap sebagai pengikut setia.

Siang Ini, Mahfud MD Lapor Ke KPK

Laporan: Sugeng Triono

RMOL. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, akan melaporkan masalah dugaan adanya suap di MK ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pukul 14.00 WIB siang ini (Jumat, 10/12).

"Ini bukan urusan sama Refly. Seperti saya katakan kemarin bahwa kami percaya terhadap temuan-temuan tim investigasi, karena tim dibentuk oleh orang-orang yang kredibel. Jadi sikap MK atas temuan tim tersebut menyetujui kasus ini diproses secara hukum dan diteruskan ke penyidik dan penyelidik," kata Mahfud MD, kepada wartawan di Gedung MK, Jakarta (Jumat, 10/12) .

Menurut Mahfud MD, yang dilaporkan MK ke KPK bukan Refli Harun.

"Yang MK laporkan bukan Refli Harun Cs, tapi adanya upaya untuk mencoba melakukan penyuapan terhadap hakim MK," jelas Mahfud.[yan]

Sumber : http://www.rakyatmerdeka.co.id/

Sugino Bertekad Melawan Budaya Politik "Oportunis"

Sugino Bertekad Melawan Budaya Politik

Selalu berbeda. Kesan itulah yang terlihat setiap kali memperhatikan sepak terjang Sugino Pudjosemito di DPRD Trenggalek. Kiprahnya sebagai legislator "kemarin sore" memang tergolong berani.

Dia bahkan sama sekali tidak ragu untuk mengambil sikap politik berbeda dengan teman-temannya yang lain di legislatif. Di saat mayoritas anggota parlemen memilih diam atau abstain, Sugino justru lantang bersuara kritis.

Sikap semacam itu tidak hanya dia tunjukkan sekali-dua kali, tetapi berulang kali. Ia bahkan sepertinya sama sekali tidak peduli, meski tindakan itu harus dilakukannya sendirian. Sikap kritis itu tidak hanya ditujukan kepada kalangan eksekutif tapi rekan sesama legislator juga tak luput dari kritiknya.

Simak saja beberapa kali sepak terjangnya saat menggalang hak angket untuk menyelidiki dugaan "jual-beli" kursi CPNS pada akhir tahun 2009 dan awal tahun 2010.

Sugino merupakan salah seorang penggagas yang paling getol untuk mengumpulkan tanda tangan.

Demikian juga saat DPRD melalui badan anggaran mengusulkan pengadaan mobil fraksi. Sugino merupakan satu-satunya wakil rakyat (dari totak 45 anggota DPRD) yang menyuarakan penentangannya bahkan dengan cara "walk out" dari ruang sidang.

Dua contoh kasus itu baru segelintir gambaran tentang sepak terjang kakek dua cucu ini. Dalam banyak kegiatan DPRD Trenggalek, karakter vokal itu selalu dia tunjukkan tanpa pandang bulu, termasuk saat sebagian rekan-rekannya dari Partai Demokrat memiliki kepentingan berbeda.

Ya, begitulah Sugino Pudjosemito. Selalu berusaha bicara lugas dan apa adanya. Mungkin karena latarbelakangnya sebagai advokat, sehingga pola pikir dan cara bicaranya selalu diembel-embeli rasionalisasi alasan yang menurut pendapatnya logis serta masuk akal.

"Bagi saya, hitam adalah hitam, putih adalah putih. Jika memang baik, tak ada alasan bagi saya untuk mengatakannya buruk. Demikian pula sebaliknya," ucapnya dalam sebuah perbincangan dengan ANTARA.

Karena kekritisannya itulah, Sugino mengaku sangat wajar jika kemudian ada pihak-pihak yang terusik.

Tidak hanya di kalangan eksekutif yang menjadi objek pengawasan DPRD, tetapi juga di kalangan dewan sendiri. Ibarat kata, Sugino telah menjadi "duri dalam daging" bagi rekan-rekannya di DPRD.

Tetapi apakah hal itu lantas membuatnya mengambil jarak dengan para wakil rakyat lain? Jawabannya tentu tidak. Yang namanya politik tetaplah politik.

Perbedaan cara pandang dan penyikapan dalam urusan politik tidak lantas membuat Sugino dikucilkan sama sekali. Hubungan kesehariannya dengan anggota dewan lain tetap baik, meski dalam beberapa kasus ia "ditinggal" oleh rekan-rekannya.

"Saya justru menganggap kecenderungan unik itu untuk melawan budaya politik oportunis yang terlanjur melekat di dunia legislatif, terutama di DPRD Trenggalek," ujarnya.

Sugino mengaku tidak peduli meski sikap-sikap kontroversialnya akan menyebabkan karir politiknya terancam.

Baginya, membangun citra politik secara sehat serta mengedepankan kepentingan masyarakat merupakan prioritas yang telah menjadi komitmennya sejak awal menerjuni dunia politik praktis.

"Saya bukan bermaksud sok suci, saya hanya ingin melakukan yang terbaik dan sesuai dengan hati nurani. Apapun risikonya," tandasnya. 
Sumber : http://www.antarajatim.com/
JAKARTA: Mendagri Gamawan Fauzi mendapat kritikan keras dari anggota Fraksi PDIP Aria Bima sebab dianggap terlalu latah dalam merespons dinamika yang terjadi di Yogyakarta yang justru malah semakin memperkeruh kebatinan masyarakat Yogyakarta.

"Pernyataan Anda yang mengatakan sidang rakyat hanya diikuti sebagian kecil rakyat Yogyakarta menunjukkan ketidakmampuan Anda melihat persoalan secara menyeluruh," interupsinya dalam sidang Paripurna, hari ini.

Menurut Aria, sikap Mendagri yang tidak menghargai sidang DPRD tersebut tidak menunjukkan sikap seorang negarawan. "Saya minta menteri lebih bijaksana dan tidak pendek akal, itu penting," tambahnya.

Sementara itu, Mendagri yang meminta waktu untuk memberi tanggapan terkait pernyataan anggota Komisi VI ini tidak diberi kesempatan oleh pimpinan sidang Pramono Anung. "Forum ini hanya membacakan atas laporan yang disampaikan Komisi II tentang RUU Parpol. Jadi kami persilakan saudara menteri untuk menyampaikan yang berkaitan dengan bahasan tersebut," ujarnya.

Raut kekecewaan pun muncul dari pernyataan Mendagri atas respons pimpinan sidang. Menurutnya, sebagai negara demokrasi seharusnya dia diberi kesempatan untuk memberi tanggapan. "Kalau saya tidak boleh menyampaikan pernyataan, ini berarti ada diskriminasi."

Menurut Pramono, sebagai perwakilan Presiden, mendagri hanya diberi waktu untuk menyampaikan atas nama Presiden mengenai RUU tentang perubahan atas UU No.2 tahun 2008 tentang Partai Politik.

"Kalau mau klarifikasi, silakan Mendagri menyampaikan dalam forum lain, Paripurna hanya mengesahkan UU Partai Politik." (tw)

Sumber : http://www.bisnis.com/
JAKARTA - Cut Tari tetap mengakui video pornonya bersama Ariel saat menjadi saksi di persidangan, kemarin. Menurut pengacara Ariel, kesaksian Cut Tari itu tidak akan memberatkan Ariel.

"Alhamdulillah, keterangan saksi kemarin tidak ada satu pun yang memberatkan klien kami. Mereka, saksi dari JPU (jaksa penuntut umum) tidak bisa membuktikan keterlibatan klien kami," ujar pengacara Ariel, Afrian Bondjol, saat dihubungi via telepon, Selasa (14/12/2010).

Pengacara yang biasa disapa Boy itu mengatakan, kesaksian Cut Tari tidak sesuai dengan perkara yang disidangkan sehingga keterangan mantan presenter infotainment itu dianggap mentah.

"Klien kami ini kan dituduh membantu penyebaran video-video seks. Sementara, Cut Tari kan memberikan kesaksian yang lain, bukan soal penyebaran video itu. Jadi sudah jelas kesaksian mereka mentah. Kami sudah menguji saksi yang didatangkan JPU," paparnya.

Setelah melihat keterangan para saksi di persidangan kemarin, Boy bersiap untuk sidang lanjutan, Kamis nanti. Pengacara yang pernah menangani kasus Manohara itu yakin saksi yang dihadirkan JPU tetap tak berpengaruh apa-apa terhadap hukuman Ariel.

"Hari Kamis nanti ada enam saksi lagi yang dihadirkan JPU. Kami akan uji dan insya Allah akan mentah lagi. Strategi selanjutnya, kami akan melihat hasil keterangan saksi nanti," pungkasnya.

Delapan saksi, dua di antaranya Cut Tari dan Luna Maya, dihadirkan JPU dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Bandung, Senin, 13 Desember. Pada sidang Kamis, 16 Desember, salah satu saksi yang akan diajukan JPU adalah mantan istri Ariel, Sarah Amalia.(ang)

Sumber : http://celebrity.okezone.com/

Indonesia Sementara Unggul 1-0 Lawan Filipina

Jakarta (ANTARA News) - Timnas Indonesia sementara unggul 1-0 melawan Filipina di babak pertama semifinal leg 1 AFF Suzuki Cup 2010 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, Kamis.
Gol tunggal ini dicetak oleh striker Christian Gonzales di menit 32.
Indonesia yang ditangani pelatih Alfred Riedl tetap mengunakan formasi utamanya dengan menempatkan duet Christian Gonzales dan Irfan Bachdim di lini depan.
Sementara Filipina yang main partai kandangnya menggunakan stadion GBK ini menempatkan duet James dan Philip bersaudara di barisan depan.
Indonesia dengan komando kapten Firman Utina memulai serangan melalui sayap kiri dengan dimotori Oktovianus Maniani. Beberapa kali Okto mencoba menembus pertahanan Filipina.
Satu peluang Indonesia lewat tendangan Chirstian Gonzales masih terlalu lemah dan dapat diamankan kiper Filipina Neil di menit 10.
Sedangkan Filipina mncoba serangan mereka dari kaki Philip yang setidaknya dua kali mengancam gawang Markus. Termasuk tendangan jarak jauhnya di menit 13.
Permainan cukup ketat dan saling menekan. Indonesia sedikit mengubah serangan dengan melambungkan umpan dari M Nasuha dan tepat ke arah Gonzales. Dengan sedikit mengecoh kiper Niel, Gonzales mencetak gol pertama untuk Indonesia di menit 32.
Susunan pemain:
Filipina: Neil Leonard Dula (kiper), Robert Gier, Anton Edward, Roel Jimena Gener, James Josep P, Philip James Placer, Alexander Charles Luis (kapten), Jason Nicolas Dantes, Christopher Robert, Ian B Araneta, Ray Anthony Pepito.
Pelatih: Simon Alexander McMenemy

Indonesia: Markus Harison Rihihina (kiper), Mohamad Nasuha, Zulkifli Syukur, Maman Abdurachman, Christian Gerard Alfaro Gonzalez, Oktavanius Maniani, Firman Utina (kapten), Irfan Haarys Bachdim, Ahmad Bustomi, Muhammad Ridwan, Hamka Hamzah
Pelatih: Alfred Riedl

Wasit: Moradi Masoud Hasanalo (Iran).(*)

(ANT/R009 - http://www.antaranews.com)