Keteranga
  • This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

30/11/10

Sapi Sono’: Lomba Hias Sapi Betina di Madura


Oleh : Lilik Rosida Irmawati
Karakteristik  dan Keunikan Seni Pertunjukan Sapi  Sono’
        Kalau anda berkesempatan mengunjungi dataran pulau Madura, bukan hanya tontonan Kerapan Sapi saja yang mampu menimbulkan decak kagum. Namun ada lagi salah satu atraksi yang akan membuat anda menggeleng-gelengkan kepala. Atraksi ini sangatlah unik dan menarik. Kalau dalam arena Kerapan Sapi anda menyaksikan adu kekuatan, kecekatan, kecepatan, kepiawaian untuk menjadi tercepat dan terdepan, maka atraksi yang satu ini sangatlah bertolak belakang, yaitu menampilkan keindahan, kelembutan dan gerakan lemah gemulai sepasang sapi betina.
          Atraksi tersebut dinamakan “Sapi Sono’”. Sapi Sono’ dalam event ini menampilkan sepasang sapi betina yang telah terlatih menunjukkan kebolehannya melakukan gerakan-gerakan indah dan gemulai. Konon, kelahiran sapi Sono’ sebenarnya identik dengan sapi Kerapan, namun dalam perkembangannya sapi kerapan lebih populer. Kepopuleran sapi kerapan, disebabkan dalam atraksi lebih semarak. Karena pada atraksi sapi kerapan lebih menonjolkan kejantanan, keperkasaan serta semangat yang tinggi untuk menjadi yang terdepan dan nomer satu. Dan dalam setiap perlombaan, selalu menonjolkan kesan urakan, sangar, hura-hura serta mampu menguras emosi massa.
          Bertolak belakang dengan sapi kerapan, sapi Sono’ mempunyai karakteristik dan keunikan yang spesifik. Sapi Sono’ menggunakan sapi betina, karena sapi betina lebih akrab dengan para petani. Selain  tenaganya digunakan di sawah dan ladang untuk membajak, sapi betina dapat dididik untuk mengedepankan perasaannya.
          Atraksi sapi Sono’ lebih menonjolkan kelembutan perasaan, sehingga dalam setiap perlombaan peserta yang kalah ataupun yang menang tidak jauh berbeda. Yang kalah justru sangatlah senang dengan kemenangan lawannya, tanpa adanya perasaan iri dan dengki.
          Tak berlebihan apabila orang beranggapan bahwa sapi Sono’ adalah simbol dari budi pekerti. Karena hewan semacam sapi dapat di ajar serta dididik untuk menggunakan perasaannya. Sapi bisa dan mampu diberi aturan, di ajar untuk patuh dan taat, di ajar untuk tidak menyentuh garis, di ajar untuk mengangkat  kaki bersamaan, di ajar untuk bisa menari, menggoyangkan tubuh (berjoget) diiringi musik Saronen. Pertunjukan ini sangat menarik, unik, menakjubkan dan langka. Karena merupakan suatu jalinan emosi yang sangat harmonis antara manusia dan hewan.
          Seusai panen biasanya para petani membutuhkan hiburan untuk mengisi waktu-waktu kosong. Karena hiburan sulit di dapat maka para petani/pemilik sapi mulai melirik sapi-sapi betina untuk dijadikan sarana hiburan. Yaitu dengan cara melatih kepekaan  sapi betina yang biasa digunakan di sawah dan ladang untuk membajak. Di samping sebagai sarana hiburan, ternyata ada satu keuntungan yang lebih besar, yaitu peningkatan kualitas ternak..
          Pemilihan induk yang berkualitas untuk bibit sapi ternyata mampu menghasilkan sapi dengan kualitas baik. Di samping menghasilkan bibit-bibit sapi sehat, daging sapi  berserat halus dan bermutu tinggi, sapi-sapi jantan yang dihasilkan mampu berlari kencang. Yang lebih menakjubkan sapi-sapi betina bisa dilatih mengedepankan perasaan, sekaligus dipergunakan sebagai tenaga inti mengerjakan sawah dan ladang.
         
Proses Pelatihan dan Pembentukan
          Seperti halnya Kerapan Sapi, atraksi Sapi Sono’ dilakukan oleh para petani pasca panen untuk mengisi waktu senggang. Dan untuk mendapatkan sepasang sapi Sono’ yang terlatih diperlukan ketekunan, ketelatenan dan  kesabaran yang tinggi dari para pelatih. Pemilik sapi biasanya memperlakukan sapi asuhnya seperti halnya memperlakukan seorang Balita. Bahkan perlakuan tersebut terkadang menimbulkan rasa cemburu pada si istri, karena porsi kasih sayang yang diberikan kepada bakal “Sapi Sono’” lebih tinggi kadar kuantitasnya daripada yang diberikan kepada istri.
          Perlakuan-perlakuan khusus diberikan ketika sepasang sapi betina setelah berumur 1 bulan. Bakal sepasang Sapi Sono’ ini telah diseleksi dan telah memenuhi persyaratan, diantaranya mempunyai kulit bagus dan mulus, tanduk indah dan bentuk postur tubuh yang bagus pula. Setiap malam sapi-sapi ini dijaga agar tidak menjadi makanan nyamuk, selain itu menjelang tidur sapi-sapi ini dielus-elus, dimassage (di pijat) pada punggungnya. Hal itu dilakukan untuk mempererat jalinan emosi, dengan harapan sapi-sapi tersebut lebih peka dan lebih mudah ketika mengalami proses pelatihan.
          Perlakuan khusus bukan hanya pada bentuk perlakuan si pemilik, namun juga pada konsumsi makanan. Selain rumput kualitas nomor 1, jatah makanan ditambah dengan menu nasi dicampur singkong. Dan untuk mendapatkan kulit yang mulus, bagus dan lembut maka minuman khusus disediakan pula. Ramuan minuman itu terbuat dari campuran kunyit, air kelapa dan gula merah.
          Ketika menginjak umur 2 bulan, sepasang sapi ini mulai dilatih. Mula-mula sepasang sapi ini dicancang pada sebuah tonggak yang telah disediakan khusus pada sebuah panggung. Pada proses latihan tersebut sapi dilatih untuk mengangkat kaki depan secara bergantian ataupun bersamaan. Disamping itu sapi juga diperkenalkan pada musik yaitu dengan cara mendengarkan alunan musik Saronen dari tape recorder.
          Proses latihan dilanjutkan di lapangan, sepasang sapi Sono’ ini dihela mengelilingi lapangan dengan iringan musik Saronen. Proses latihan itu dilakukan terus-menerus selama satu tahun. Ketika sapi telah berumur satu atau dua tahun maka sepasang sapi tersebut sudah bisa dan mampu meresapi latihan/pelajaran yang diberikan. Selain itu sepasang sapi tersebut mampu dan peka terhadap alunan musik. Apabila musik Saronen diperdengarkan, secara otomatis sapi-sapi berjalan sambil melenggak-lenggokkan badan dan berjoget.
          Tak berbeda dengan manusia, setiap sapi mempunyai kepekaan yang tidak sama. Ada sapi yang berbakat dan ini biasanya berasal dari faktor genetik. Untuk sejenis sapi berbakat ini, proses latihan hanya memerlukan waktu yang sangat relatif singkat. Untuk bibit sapi  berjenis unggul ini biasanya berasal dari kecamatan Waru, Pamekasan.         Sampai saat inipun bibit sapi yang baik, bagus, cantik dan cerdas masih berasal dari daerah Waru, Pamekasan. Biasanya para pemilik sapi, mencari dan membeli dari kecamatan tersebut untuk dijadikan bibit induk.

 Teknik Penyelenggaraan Atraksi Sapi Sono’
          Penyelenggaraan atraksi sapi Sono’, dibagi dalam dua kategori. Kategori pertama dalam bentuk kontes, kategori kedua dalam bentuk aduan. Dalam bentuk kontes, penilaian ditekankan pada keelokan sapi, lenggak-lenggok sapi waktu berjalan serta aksesoris yang menempel pada badan sapi. Kontes ini diadakan untuk menghibur para penonton sekaligus sekedar melepas kegembiraan, terutama para pemilik sapi. Karena dalam kontes ini, mereka saling memuji dan mengelu-elukan keelokan, kecantikan serta kemulusan sapi. Kontes ini biasanya dalam bentuk parade dan diiringi musik kleningan (gamelan) serta suara merdu pesinden. Dalam  penyelenggaraan kontes sapi Sono’, semua peserta mendapatkan  hadiah.
          Penyelenggaraan kedua adalah bentuk aduan, bertujuan untuk memperebutkan kejuaraan. Dalam aduan ini ada aturan-aturan serta syarat-syarat yang  telah menjadi kesepakatan dalam bentuk aturan tak tertulis. Dan pasangan sapi yang ikut dalam aduan ini, dikelompokkan menurut besar kecil ukuran sapi. Pool A, kelompok pertama untuk ukuran pasangan sapi yang paling besar dan tinggi, dengan ukuran badan 120 cm keatas. Untuk pool B, dengan ukuran 111 s/d 119 cm, sedangkan pool C dengan ukuran 111 cm kebawah.
          Dengan adanya pengelompokan ini akan terjadi keseimbangan antara pasangan-pasangan sapi yang akan dilombakan. Dengan tujuan memberikan kesempatan kepada para pemilik sapi untuk menunjukkan kebolehan sapi-sapi asuhannya. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan yang sangat tinggi kepada para pemilik sapi.
          Aturan main yang diterapkan dalam penilaian bentuk aduan sapi Sono’ adalah menghitung pelanggaran (kesalahan) yang dilakukan oleh sepasang sapi. Dalam setiap arena perlombaan, pasangan sapi yang banyak melakukan pelanggaran (kesalahan), akan dinyatakan kalah. Sedangkan pasangan sapi Sono’ yang sedikit melakukan pelanggaran (kesalahan), pasangan sapi itulah yang dinyatakan sebagai pemenang.
Hal-hal yang termasuk dalam penilaian aduan sapi Sono’, adalah :
  1. Pada saat sapi diberangkatkan dari start sampai garis finis apabila kaki sapi meng-injak lin/garis, akan dipotong 5, meng-injak dua kali dipotong 10. (Setiap kali kaki meng-injak lin/garis dipotong 5).
  2. Kemiringan pangonong, apabila telah memasuki garis finis, pangonong dari pasangan sapi tersebut miring maka akan dipotong 10.
  3. Apabila telah sampai ke garis finis, kaki sepasang sapi akan naik bersamaan pada sebuah papan. Kalau kaki sapi langsung turun, akan dikurangi 10, kaki mengangkat akan dikurangi 5.
Dalam setiap penyelenggaraan, baik dalam even kontes maupun aduan, dibentuk suatu kepanitiaan serta tim dewan juri. Tim juri terdiri dari 7 orang, 3 juri bertugas digaris start, 3 juri di garis finis dan 1 juri waktu.
     Di garis start, 3 juri bertugas untuk memberangkatkan pasangan sapi, sekaligus membawa bendera berwarna merah-biru-kuning. Tugas ke- 3 juri tersebut adalah mengikuti jalannya sapi sampai ke garis finis, sekaligus mencatat setiap pelanggaran (kesalahan) sapi. Penilaian dititikberatkan pada kaki-kaki sapi yang meng-injak lin/garis di samping kanan dan kiri. Sesampai di garis finis, telah ada 3 juri yang akan mencatat setiap pelanggaran (kesalahan), yaitu pada waktu pasangan sapi menaikkan kaki secara bersamaan, apakah kaki diangkat bersamaan atau turun bersamaan. Sedangkan juri waktu ber-tugas menilai ketepatan waktu saat sapi berada di panggung,
     Untuk mendapatkan kategori kejuaraan, diadakan babak penyisihan. Pasangan sapi yang menang, akan dilomba kembali dengan pasangan yang menang. Begitu pula dengan pasangan sapi yang kalah, akan bertemu dengan pasangan yang kalah. Setelah acara penyelenggaraan usai, maka akan ditentukan juara dari kelompok pemenang, juara I, II dan III. Begitu pula dari kelompok kalah, akan ditentukan juara kelompok kalah I, II dan III.
     Sebelum acara perlombaan dimulai, biasanya sapi-sapi yang akan dilombakan diarak terlebih dahulu. Dalam acara pawai ini telah diketahui pasangan sapi yang akan masuk daftar unggulan. Hal itu dapat dilihat dari keluwesan sapi saat berjalan ataupun pasangan sapi yang demikian gemulai melenggak-lenggokkan badan, aksesoris yang dipakai ataupun kemulusan kulit sapi.
     Sebelum acara pawai ataupun perlombaan dimulai, pasangan sapi telah didandani sebagus mungkin. Setelah dimandikan, pasangan sapi tersebut disatukan dengan pemasangan pangonong. Biasanya diatas pangonong ada 2 atau 3 pancong dengan berhiaskan miniatur burung atau kuda, setelah itu dipasang kalung (gungseng), sehingga menimbulkan suara gemerincing. Langkah selanjutnya adalah pemasangan sabrek (kain), yang  dihiasi oleh benang-benang emas, baik yang dipasang di leher sapi  ataupun yang dipasang pada bagian tubuh yang lain. Penampilan sapi semakin keren dengan pemasangan selop tanduk di kepala, selop tanduk  terbuat dari tembaga putih.          Setelah selesai pemasangan semua aksesoris, barulah pasangan sapi itu memasuki arena perlombaan.
     Dalam acara pawai  penampilan pasangan sapi Sono’ itu sangat keren, tak kalah bersaing dengan para peragawati yang berlenggak-lenggok di atas calk walk. Diiringi tiupan Saronen yang mendayu-dayu, hentakan gendang, gurcak dan gong, sapi-sapi itu pun menggoyang-goyangkan badan sesuai dengan irama. Sementara itu, para pemilik sapi menarik tali kekang sambil menyatukan langkah dengan hentakan musik. Bersaing dengan pasangan sapi yang dihelanya, sama-sama melenggak-lenggokkan badan, menyatu dalam irama menghentak, mengiringi sapi-sapi  yang tampil anggun, cantik sekaligus gagah.
           Tentu saja atraksi sepasang sapi betina yang mampu menggunakan perasaannya, mengenal alunan musik, patuh, taat pada aturan, disiplin serta mampu berjoget merupakan sesuatu hal yang sangat menakjubkan. Prestasi membanggakan tersebut dapat di raih berkat  ketelatenan, keuletan, ketekunan dan kesabaran yang tinggi  dari para pemilik sapi/pelatih sapi. Disamping itu dapat dilihat betapa erat jalinan hubungan yang dimiliki para petani/pemilik sapi ini terhadap makhluk hidup lainnya. Perlakuan manusiawi yang ditunjukkan para pemilik sapi merupakan contoh nyata yang patut ditiru. Kultur tersebut patut dipertahankan dan dilestarikan kembali, untuk membentuk manusia humanis.

Saronen Instrumen Musik Madura


 Instrumen Musik Serba Guna

          Ketika anda menyaksikan beberapa atraksi kesenian daerah di Madura, instrumen musik pengiring yang paling dominan adalah Saronen. Instrumen musik ini sangat kompleks dalam penggunaannya. Katakanlah musik serba guna yang mampu menghadirkan berbagai nuansa sesuai dengan kepentingan. Walaupun musik instrumen ini merupakan perpaduan dari beberapa alat musik, namun yang paling dominan adalah liukan-liukan alat tiup berbentuk kerucut sebagai alat musik utama. Alat musik tersebut bernama Saronen.
           Konon, orkes Saronen ini berasal dari desa Sendang, kecamatan Pragaan. Saronen berasal dari kata Senninan, (hari Senin). Kala itu, kyai Khatib Sendang (cicit Sunan Kudus), menciptakan orkes ini sebagai media dakwah untuk penyebaran agama Islam. Setiap hari pasaran yang jatuh pada hari Senin, Kyai Khatib menggunakannya dalam upaya menarik massa. Pertama kali yang dilakukan oleh Kyai yang inovatif ini, acara diawali dengan munculnya dua badut. Kedua badut ini, menari dan menyanyi serta melawak. Adapun materi lawakan banyak berisi sindiran dan kritikan  tentang situasi dan kondisi  serta kebijakan pemerintahan pada masa itu. Untuk meramaikan dan menambah semarak adegan-adegan yang dibawakan kedua badut tersebut, maka  acara tersebut diselingi musik yang mampu membangun  suasana menjadi riang  gembira.
          Setelah massa terkumpul, barulah kyai Khatib Sendang memulai dakwah. Sehingga pada waktu itu banyak sekali yang tertarik, kemudian menyatakan diri untuk mengikuti ajaran agama Islam. Tentu saja, kyai Khatib dalam menciptakan instrumen musik Saronen menyesuaikan dengan karakter masyarakat Madura. Suku Madura merupakan sosok yang terkenal mempunyai watak keras, polos, terbuka dan hangat. Sehingga, jenis musik riang dan ber-irama mars menjadi pilihan yang paling pas. Dan dalam perkembangannya, musik Saronen menjadi musik yang sangat digemari dan merakyat serta menjadi trade mark musik Madura.

Ciri khas Instrumen Saronen     

Musik instrumentalia Saronen terdiri dari 9 alat musik dengan nilai filosofi Islam yang sangat kental. Karena ke- sembilan  alat musik tersebut adalah pengejawantahan ayat pendek yang menjadi pembuka Al’Qur’anul Karim, yaitu Bismillahhirrohmanirrohim. Adapun ke-9 alat musik tersebut terdiri dari ;  1 saronen, 1 gong besar, 1 kempul, 1 kenong besar, 1 kenong tengahan, 1 kenong kecil, 1 korca, 1 gendang besar dan 1 gendang dik gudik (kecil). 
          Ke – sembilan alat musik tersebut menjadi perpaduan yang harmoni, sedangkan. yang menjadi ruh dari orkes ini adalah alat musik Saronen yang berbentuk kerucut. Alat musik ini terbuat dari pohon jati, dengan enam lubang berderet di depan dan satu lubang di belakang. Sebuah gelang kecil dari kuningan mengaitkan bagian bawah dengan bagian atas. Ujungnya terbuat dari kayu siwalan dan menjepit lidah gandanya (pepet), terbuat dari sepat atau dari daun pohon siwalan. Pada pangkal alat musik itu ditambah sebuah sayap dari tempurung kelapa yang nampak seperti kumis. Saronen berukuran sekitar 40 cm. Alat musik jenis ini berasal dari Timur Tengah.
          Dalam perkembangannya, alat musik yang terdiri dari 9 unsur tersebut mengalami penambahan sehingga menjadi 12 alat musik. Yaitu dengan penambahan 1 alat musik saronen serta 1 alat musik kempul. Begitu pula dengan jumlah penabuh/pemusik. Orkes Saronen yang tetap memakai komposisi (versi) lama, menggunakan alat musik sebanyak 9 dengan penabuh sebanyak 9 personel. Masing-masing membawa satu alat musik, sedangkan gong dan kempul dipikul oleh dua penabuh, yang secara bergantian memukul alat musik tersebut. Sedangkan yang menggunakan komposisi (versi) baru alat musik berjumlah 12, serta penabuh/pemusik juga berjumlah 12 orang.

Instrumen Musik ber-irama Mars

Irama yang dihasilkan dari instrument musik Saronen dipakai sebagai pengiring kegiatan Kerapan Sapi, atraksi Sapi Sono’, berbagai upacara ritual di makan keramat, acara pesta perkawinan ataupun dalam event-event kesenian. Selain itu orkes musik Saronen dapat berdiri sendiri dengan menyajikan berbagai  bentuk tontonan yang menarik dan atraktif. Yaitu dengan cara memodifikasi berbagai unsur gerak, baik seni tari, seni hadrah maupun seni bela diri silat dalam kemasan gerak tari sesuai irama musik yang dimainkan. Begitu pula dengan lagu-lagu yang dibawakan, musik. Saronen mampu mengiringi lagu-lagu dari berbagai aliran musik, baik itu keroncong, dangdut, pop, rock and rool maupun lagu-lagu daerah lainnya. Lagu-lagu keroncong yang ber-irama mendayu-dayu misalnya, mampu digubah dalam irama mars yang dinamis.
Dalam setiap atraksi, orkes Saronen ini mampu membangun serta menciptakan suasana yang hangat dan gembira. Ketika berjalan mengikuti iring-iringan pasangan sapi, baik Kerapan Sapi atau Sapi Sono’, upacara-upacara ritual, mengiringi atraksi kuda Kenca’ ataupun arak-arakan para pemusik ini berjalan dengan langkah-langkah pendek sambil berlenggak-lenggok mengikuti irama, gerakan-gerakan itu disesuaikan dengan irama lagu yang dibawakan.
          Alat musik Saronen biasanya dipakai sebagai pembuka komposisi dengan permainan solo. Suaranya yang sedikit sengau dan demikian keras, meloncat-loncat, melengking-lengking dan meliuk-liuk dalam irama yang menghentak. Baru setelah itu diikuti oleh pukulan alat musik lainnya, pukulan gendang, kennong, ketukan kerca dan simbal. Perpaduan alat-alat musik tersebut menghasilkan keselarasan irama pada seluruh orkes.
          Setiap komposisi musik yang dimainkan, di awali dalam tempo lamban yang berubah menjadi tempo medium, lalu semakin cepat, atau sebaliknya, permainan diawali langsung dalam tempo medium langsung berubah menjadi cepat dan berakhir dengan tempo yang semakin cepat untuk seluruh orkes. Permainan yang sangat variatif dan penuh improvisasi dari para pemain, serta teriakan yang dilontarkan para pemain menambah kegairahan pada irama yang sudah melengking dan meloncat-loncat. Dalam setiap permainan, setiap komposisi lagu berakhir seketika, dalam arti semua instrumen berhenti pada saat yang sama.
          Seperti halnya instrumen musik lain, Saronen dapat dimainkan sesuai  dengan jenis irama yang diinginkan. Walaupun sangat dominan memainkan jenis irama mars, dalam bahasa Madura irama  sarka’, Saronen ini mampu menghasilkan jenis irama lainnya, yaitu irama lorongan (irama sedang). Jenis irama ini terdiri dari dua, yaitu irama sedang  “lorongan jhalan” dan  irama slow ‘lorongan toju’. Masing-masing irama tersebut dimainkan di berbagai kegiatan kesenian dengan acara serta suasana yang berbeda.
Untuk irama sarka’, biasanya dimainkan dalam suasana riang dan permainan musik cepat dan dinamis. Tujuannya adalah memberikan  semangat dan suasana hangat. Adapun semua lagu dapat digubah dalam irama sarka’. Sementara itu, untuk jenis irama lorongan, baik lorongan jhalan (sedang) atau lorongan toju’ (slow), lagu-lagu yang dimainkan biasanya berasal dari  berbagai lagu gending karawitan.
          Ketika mengiringi kerapan sapi  menuju lapangan untuk berlaga, irama sarka’ ini dimainkan untuk memberikan dorongan semangat, baik kepada sapi atau pun pemilik serta para pengiring-nya. Begitu pula ketika orkes Saronen mengiringi sepasang pengantin, irama  ini dimainkan sampai sepasang pengantin itu mencapai pintu gerbang. Musik ber-irama sarka’ ini, mampu menciptakan suasana hangat dan kegembiraan  bagi penonton.
Sedangkan irama lorongan jhalan (irama sedang), biasanya dimainkan  pada saat dalam perjalanan menuju lokasi. Baik ketika sedang mengiringi sapi kerapan ataupun atraksi sapi sono’. Selain itu, irama ini dimainkan ketika mengiringi atraksi kuda kenca’ atau pun di  berbagai acara ritual yang berkaitan dengan prosesi  kehidupan manusia. Adapun lagu-lagu yang dimainkan berasal dari lagu-lagu gending karawitan, seperti gending Nong-Nong, Manyar Sebuh, Lan-jalan ataupun Bronto Sewu.
Irama lorongan toju’, biasanya memainkan lagu-lagu gending yang ber-irama lembut (slow). Jenis irama ini dipakai untuk mengungkapkan luapan perasaan yang melankonis, rindu dendam, suasana sedih ataupun perasaan bahagia. Irama lorongan toju’ biasa dimainkan ketika mengiringi pengantin  keluar dari pintu gerbang menuju pintu pelaminan. Adapun gending-gending yang dimainkan adalah alunan gending Angling, Rarari, Puspawarna, Kinanti, Gung-Gung dan lainnya.
          Dalam setiap penampilan agar semakin memikat, biasanya para pemain menggunakan seragam yang sama. Untuk acara-acara ritual, para pemain biasanya memakai odheng Madura dan bersarung; ada juga yang mengenakan celana dan baju hitam longgar khas petani Madura serta berkaos dengan motif garis-garis panjang berwarna merah putih. Namun di kalangan kaum muda biasanya mereka tampil lebih modern, dengan mengenakan pakaian warna-warna terang dan mencolok serta memakai rompi yang dihiasi oleh rumbai-rumbai  benang emas. Penampilan mereka semakin keren dengan memakai kaca mata hitam serta topi lakan.
          Khusus musik Saronen, kaum muda (yang tinggal di pedesaan) tidak merasa malu ketika menggeluti musik ini. Karena jenis irama yang dimainkan dapat disesuaikan dengan perkembangan musik yang sedang ngetrent. Disamping itu musik etnik ini mampu dimainkan, dimodifikasi dan diimprovisasi ke berbagai aliran musik. Sehingga irama yang dihasilkan memenuhi selera masyarakat baik yang menyukai jenis musik dangdut, pop, keroncong, karawitan/gendingan/tembang  ataupun aliran musik kontenporer.