Keteranga
  • This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

05/12/10

Pemuda Berprestasi – Jauhi Narkoba

Oleh: Taufikfadillah’s Weblog
Foto: Google
Kehidupan remaja merupakan moment waktu yang paling berkesan dan paling indah dimana saatnya timbul rasa kebanggan tersendiri saya sudah bisa ini, saya sudah bisa itu dan keinginan tahu terhadap sesuatu yang begitu besar untuk mencari jati diri sendiri. Gaya hidup instant dijadikan sebagai impian remaja masa kini tanpa memikirkan dampak buruknya kedepan.

Sejalan dengan perkembangan teknologi dan informasi dunia yang serasa cukup didepan komputer yang membuat mental pemuda sekarang dimanjakan oleh fasilitas yang tersedia, terbukanya dunia pasar bebas yang memungkinkan negara luar untuk memasuki negara kita dengan mudah membawa budaya baratnya yang bertentangan dengan budaya timur dan tanpa adanya “filter” iman dan taqwa membawa remaja hari ini terlena dan harus mengikuti gaya barat agar tidak dibilang kampungan oleh temannya yang sudah merasa jagoan.

Beberapa kota besar di Indonesia Jakarta, Surabaya, medan, bandung dan Jogjakarta kita lihat begitu banyak pemuda terlantar yang hanya menghabiskan waktunya dengan kumpul-kumpul, duduk, mengamen dan bergitar untuk mencari uang demi membeli rokok, ganja dan narkoba dengan perkumpulannya yang hanya untuk mencari kesengan, bebas dan fly.

Suatu sistim akan berjalan jika ada roda permainannya begitu juga dengan dunia narkoba yang membahayakan nasib bangsa ini. Berawal dengan sebatang rokok yang awal nya coba-coba atau terpaksa karena lingkungan yang membuatnya begitu. Yang awalnya diberi Cuma-Cuma membuat kebiasaan merokok setiap hari sebelum masuk sekolah, disaat istirahat, pulang sekolah/kampus dan saat berkumpul sampai harus mencuri uang orangtua atau menjual barang berharga hanya untuk membeli dan membayari rokok teman yang sudah mengasih sebuah rokok pada mulanya, dilanjutkan dengan Bandar narkoba yang mengincar perkumpulan-perkumpulan bebas, diskotik dan hiburan malam yang berkeliaran dimalam hari untuk memasarkan dagangan narkobanya. Dan membuat kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan karena tidak ingin merasakan sakaw. Bahaya narkoba yang dapat mengancam nyawa bukan hanya merusak hidup pribadi juga nama baik keluarga dan bangsa.

Bandar narkoba dan pemasarannya di negeri ini sangat memprihatinkan karena dilindungi secara “hiden” oleh pihak pengaman negeri ini, dan dikota-kota besar pasarnya sudah dibuat sedemikian baik dan tidak menutupi kemungkinan bahwa bandarnya adalah seorang aparat negri ini. Orang yang bertugas sebagai pelindung Negara menjadi penghancur Negara.

Ketegakkan hukum dinegara inilah yang menjadi kekuatan untuk memberantas peredaran narkoba dan menghukum pemakai dan penjual narkoba tersebut secara adminstrasinya, namun kembali kepada kesadaran pribadi untuk menjauhi bahaya narkoba yang mengancam nyawa, menghabiskan waktu secara sia-sia, menyita banyak materi dan menghapuskan harapan dan cita-cita yang didambakan selama waktu kecil.

Keluarga sebagai tempat pendidikan pertama merupakan suatu “self control”, dimana peran orangtua sebagai pengatur rumah tangga untuk perkembangan anak-anaknya sangat menentukan arah mau kemanakah anak kita nantinya mau jadi apa dan dimana dia akan menempuh jalan semua itu, banyak cara yang dapat dilakukan oleh orangtua sebagai contoh pemberian bekal ilmu agama untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada ALLAH, membimbing tingkah lakunya dengan bersopan santun terhadap orang lain dan sebagainya.

Lingkungan hidup disekitar kita menjadi faktor eksternal dalam perkembangan kehidupan para remaja masa kini, banyak waktu para pemuda dihabiskan dengan teman-teman sekitarnya sebagai tanda solidritas persahabatan. Bentuk kegiatan didalam ruang lingkupnya menentukan baik buruknya suatu generasi disuatu daerah itu dan pengaruh dari faktor eksternal ini sangat besar bagi seseorang yang tidak memilik basic pengendalian dirinya sendiri

Foto: Google
Kegiatan yang dapat dilakukan oleh generasi muda sekarang ini untuk menghindari kehidupan yang gelap seperti kehidupan malam, freesex, diskotik dan tawuran yang merupakan dampak negatif dari pemakaian narkoba tersebut adalah menghidupkan generasi yang sehat dengan kegiatan olahraga, latihan-latihan yang “continue” dengan binaan pemuda setempat sebagai persiapan dalam menghadapi event- event besar ditingkat kecamatan, daerah dan nasional dapat menjaring pemain-pemain yang handal sehingga membentuk tim nasional yang tangguh dinegeri ini.

SD, SMP, SMA dan PTN/PTS tidak kalah penting dalam membina murid/mahasiswanya untuk menghindari kehidupan narkoba, selain menimba ilmu akademik yang dapat membekali kehidupan mereka kedepan juga dapat menghidupkan lingkungan yang sehat dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan olahraga seperti pertandingan sepak bola, pertandingan basket, lomba marathon dan sebagainya dalam perayaan hari-hari tertentu atau kegiatan rutin yang dapat menjaring pemain yang berkualitas. Kegiatan ini dapat dilaksanakan oleh Osis sekolah atau UKO mahasiswa di tingkat Perguruaan Tinggi, sehingga kegiatan ini sangat bermakna bagi seluruh siswa dan mahasiswa karena kegiatan dari siswa untuk siswa dan oleh siswa.

Pemerintah setempat menjadi fasilitator untuk mensejahterakan para pemain pilihan yang telah terjaring dalam pertandingan-pertandingan dan perlombaan dan memberi penghargaan bagi pemain yang terbaik untuk meningkatkan gairah para pemain agar meningkatkan kualitas permainannya yang akan dijadikan sebagai tim nasional yang dapat mengharumkan nama bangsa Indonesia di mata internasional.

Dengan adanya kegiatan olahraga ini maka menurunkan aktivitas anak remaja masa kini untuk melakukan hal/kegiatan yang buruk salah satunya “narkoba” dengan latihan-latihan dan event yang menyibukkan waktu mereka dan sebaliknya anak remaja sekarang untuk masa yang akan datang akan dapat mengharumkan nama bangsa ini sehingga menjadi generasi yang berprestasi.

Sumber akses : http://www.blogger.com/

Ansor Dukung Pengembangan Yogyakarta Sebagai Kota Toleransi

YOGYAKARTA (Arrahmah.com) - Gerakan Pemuda (GP) Ansor mendukung pengembangan Yogyakarta sebagai kota yang penuh toleransi dan damai, kata Ketua Pimpinan Wilayah (Pimwil) GP Ansor Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Akhmad Fikri AF.
Usai bertemu Wakil Gubernur DIY Paku Alam IX di kompleks kantor gubernur DIY, Kepatihan, Yogyakarta, Senin (1/3), ia mengatakan pihaknya menyampaikan gagasan bagaimana pemerintah daerah harus bahu membahu dan saling mendukung untuk mengembangkan kota Yogyakarta sebagai `city of tolerance`, yaitu kota yang masyarakatnya memiliki rasa toleransi tinggi dan kedamaian.

Wagub DIY yang didampingi Kepala Biro Administrasi Kesra dan Kemasyarakatan Sarminto, menerima jajaran pengurus GP Ansor DIY yang terdiri sembilan orang dalam rangka memperkenalkan diri sebagai pengurus baru 2009 - 2013 yang dilantik pada 16 Januari 2010.

"Sebagai pengurus baru, kami memperkenalkan diri kepada bapak wagub DIY, sekaligus bersilaturahmi dengan beliau," kata Akhmad Fikri.

Ia mengatakan pada kesempatan bertemu wagub DIY itu pihaknya juga menyampaikan informasi sehubungan akan diselenggarakannya berbagai kegiatan GP Ansor DIY di antaranya pendidikan kader lanjutan, kursus Banser lanjutan, pengobatan gratis, bulan donor darah, sunatan massal dalam rangkaian memperingati HUT ke-76 GP Ansor pada April 2010.

"Semua kegiatan dilaksanakan pada April mendatang, karena kebetulan pada bulan itu kami memperingati HUT ke-76. Kami juga minta kesediaan wagub DIY berkenan hadir pada pembukaan orasi budaya yang rencananya akan dilaksanakan pada 24 April," katanya.

Sementara itu, Wagub Paku Alam IX menyambut positif dan mendukung kegiatan yang akan dilaksanakan jajaran pengurus Pimpinan Wilayah GP Ansor DIY dalam rangka memperingati HUT ke-76, (ant/arrahmah.com)


Sumber akses: http://arrahmah.com/

Gotong Royong Membangun Masjid

http://www.nuansaislam.com/
Ketika tiba di Madinah dalam perjalanan hijrah yang menegangkan dan melelahkan, bangunan pertama yang hendak didirikan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya adalah masjid. Karena itu, beliau mengerahkan para sahabat untuk bekerja, bahu membahu dalam menyelesaikan pembangunan masjid ini.
Meskipun semua sahabat turut serta dalam bergotong royong, sebagai pemimpin, Rasulullah saw tidak hanya memberi instruksi atau memerintah dan mengatur, ternyata beliau juga turun tangan langsung mengangkat batu bata bersama para sahabat sambil bernasyid: "Ya Allah. Tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin." Demikian Bukhari meriwayatkan.
Para sahabat nampak sudah merasa lelah, mereka satu demi satu mulai beristirahat, sementara Rasulullah saw juga sebenarnya sudah lelah, itu nampak dari raut wajahnya, tapi beliau terus saja membawa batu bata sehingga sahabat-sahabat yang sudah mulai beristirahat menjadi malu, apalagi dari segi usia mereka lebih muda. Seorang sahabat yang sudah duduk istirahat akhirnya bangkit kembali dari tempat duduknya, ia menghampiri Nabi yang sedang membawa batu bata sambil mengatakan: “Ya Rasul, engkau nampak sudah lelah, berikanlah batu itu kepada saya biar saya yang membawanya, istirahatlah engkau.”
Rasulullah saw menegaskan sambil menunjuk kearah tumpukan batu bata: “Lihatlah di sana, masih banyak batu bata yang harus dibawa, bila kamu masih mau membawa, ambillah yang di sana, yang ini biar aku yang membawanya.”
Semangat Rasul saw yang tinggi dalam bekerja membuat seorang sahabat sampai bersyair: “Jika kita duduk, sedang Rasulullah bekerja, Itu adalah amal yang sesat dari kami.”

          Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:

1.    Seorang pemimpin harus mau juga mengerjakan hal-hal yang amat teknis, ia tidak hanya mengatur tapi juga melaksanakan apa yang memang harus dilaksanakan.
2.    Membangun masjid idealnya dengan kerjasama yang baik diantara sesama jamaah, baik dana maupun tenaga sehingga rasa memiliki terhadap masjid menjadi lebih besar dan diharapkan rasa tanggungjawabnya dalam memakmurkan masjid juga besar.